“Budaya Populer” terdiri dari dua kata yaitu “Budaya” dan “Populer”. Istilah Budaya menurut Raymond William, setidaknya memiliki tiga definisi yaitu;
1). Proses umum dari intelektual, spiritual dan pengembangan estetik. Sebagai contohnya dari kehidupan sehari-hari yaitu adanya seniman hebat, pujangga dll.
2). Budaya sebagai “way of life” partikular dari orang-orang, periode atau sekelompok orang. Dalam konteks ini budaya tidak hanya sebatas faktor intelektual dan estetika saja melainkan lebih kepada apa yang dikembangkanya. Contohnya seperti acara keagamaan. contohnya dari kehidupan saya sebagai seorang muslim, yaitu mengenai budaya lebaran atau idul fitri, dimana pada saat idul fitri, masyarakat sering melakukan kebiasaan yang cukup lazim dilakukan sebut saja seperti budaya “mudik, membuat ketupat, berbagai THR dan lain sebagainya”.
3) Budaya dipandang sebagai kegiatan praktis
dari intelektual dan khususnya aktivitas artistik. Contohnya seperti puisi,
novel, balet, opera dll. Contohnya saja dalam kehidupan saya, saya hobi membaca
novel. Ini artinya saya sedang mengonsumsi dari produk budaya. Dari ketiga
definisi tersebut, untuk mendefinisikan budaya populer, definisi istilah
“budaya” yang digunakan yaitu definisi kedua dan ketiga.
Setelah membahas
mengenai istilah budaya, selanjutnya akan dibahas mengenai terma “populer”.
Secara sederhana, menurut William, populer diartikan sebagai “sesuatu yang disukai
banyak orang”, “pekerjaan inferior”, “pekerjaan yang diatur untuk mebahagiakan
banyak orang”, “budaya yang sebenarnya diciptakan oleh orang-orang mereka
sendiri”. Tetapi terma ini akan kompleks ketika dihubungkan dengan terma
“Budaya”. Berikut penjelasan selengkapnya;
Storey, J. (2015) dalam bukunya
berjudul “Cultural theory and popular
culture : An Introduction”, menjelaskan setidaknya enam definisi mengenai
istilah budaya populer, diantaranya :
1. Budpop sebagai
budaya yang disukai oleh banyak orang. Oleh karena itu budpop disini harus
memiliki nilai kuantitatif (dapat dihitung banyaknya). Contohnya film Dilan
yang bisa menembus angka 3 juta penonton hanya dalam beberapa hari,
mengindikasikan bahwa film Dilan merupakan produk budaya populer yang disukai
oleh banyak orang.
2. Budpop dalam
kaitanya dengan budaya tinggi. Dalam hal ini budpop dipandang sebagai “budaya
rendah” kebalikan dari budaya tinggi. Dalam contoh sehari-hari adalah adanya
dikotomis aliran musik yang dinilai “tinggi” dan “rendah”. Mereka yang menyukai
musik jazz dan klasik dipandang sebagai penyuka budaya tinggi, sedangkan saya
yang menyukai musik dangdut dan pop dipandang sebagai penyuka budaya rendah.
3. Budpop sebagai
budaya massa. Dalam hal ini budpop diidentikan dengan budaya yang tujuanya
untuk komersial yang diciptakan secara massal dan masif untuk dikonsumsi
masyarakat banyak. Contohnya yaitu lagu-lagu dan film dari Hollywood Amerika.
4. Budpop dengan
kaitanya dengan folks culture. (folks culture : budaya yang diciptakan
oleh orang-orang untuk orang lain). Contoh dari folks culture dari Indonesia yaitu musik dangdut.
5. Budpop dalam
kaitanya dengan Hegemoni (Gramsci). Dalam hal ini yaitu adanya kelompok dominan
yang mendominasi kelompok subordinat melalui proses intelektual dan kepemimpinan
moral. Meskipun demikian, budpop disini dijadikan sebagai situs perjuangan
kelompok subordinat yang resisten terhadap pemaksaan penyatuan kelompok
dominan. Sebagai contohnya dalam kehidupan sehari-hari saya sering menggunakan produk
tiruan dari Cina alih-alih membeli merk asli dengan harga mahal. Barang-barang
tiruan ini merupakan perlawanan dari produk kapitalis.
6. Budpop menurut
perspektif postmodernisme. Dalam hal ini, postmodernisme menyatakan bahwa tidak
ada lagi perbedaan antara high culture dan
low culture. Sehingga batasan antara
budaya otentik dan komersial menjadi tidak jelas. Contohnya musik jazz yang
dulu dikenal ekslusif sekarang justru banyak juga yang suka musik jazz.

Comments
Post a Comment