“Top Story” (Sebuah Perjalan Kesuksesan Sang Milyuner Muda, “Top Ittipat”)


Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa gigihnya seorang Top Ittipat. Seorang pengusaha muda asal Thailand yang dikenal dengan bisnisnya yaitu snack rumput laut yang diberi nama “Tao Kae Noi”.


Tao Kae Noi sendiri dalam bahasa Thailand artinya “Pengusaha Muda”. Hal ini tepat sekali jika diidentikan dengan Top Ittipat itu sendiri. Dia mencapai kesuksesan sebagai pengusaha di usia yang bisa dibilang relatif masih muda yaitu di usia 20 tahun-an.  Disaat orang-orang diseusianya sedang sibuk-sibuknya melanjutkan studi atu mencari pekerjaan, Top justru sudah merengkuh kesuksesan dengan menjadi CEO dari suatu perusahaan besar dan bisa dibilang sebagi milyuner muda.

Namun tentunya kesuksesan yang diraihnya kini, bukanlah dia dapatkan secara instan. Banyak halangan dan rintangan yang harus dia hadapi untuk bisa mendapatkan posisi sekarang ini. Tak jarang diantaranya Top mengalami kegagalan bahkan menjalani periode terburuk dalam hidupnya. Untuk lebih jelasnya berikut akan dipaparkan mengenai perjuangan Top yang bisa dibilang sangat menginspirasi dan bisa menjadi role model bagi pengusaha pemula (young entrepreneur) yang ingin merintis karir di bidang bisnis.

Aitthipat Kulapongvanich (Thai: อิทธิพัทธ์ กุลพงษ์วณิชย์; RTGS: Itthiphat Kunlaphongwanit), nama panggilan Tob (Thai: ต๊อบ),adalah seorang pengusaha muda keturunan China Thailand yang tinggal di Thailand. Tob adalah CEO dari TaoKaeNoi Food & Marketing Co., LTD. Sebuah film berjudul The Billionaire yang disutradarai oleh Songyos Sugmakanan adalah film yang dibuat untuk menghargai kisah perjalanan hidup Tob.

 

                                                                                                                              

Top Ittipat hanyalah orang yang biasa dan suka bolos sekolah serta mencintai dunia game. Walaupun keluarganya sedang mengalami krisis finansial pada tahun 1997, kencanduannya terhadap game online yang membuatnya tetap dapat hidup dengan baik, yaitu melalui penjualan barang & harta di game online. Melalui hal tersebut, Top berhasil mendapatkan sekitar 400 ribu baht perbulan atau setara dengan 130 Juta Rupiah perbulannya. Dengan begitu, Top tidak perlu meminta uang saku kepada keluarganya.

Dari bisnis game onlinenya tersebut, ia dapat membeli mobil & menjaga keadaan finansialnya. Namun karena bisnis ini bisa dikatakan bisnis ilegal maka rekening game online Top akhirnya ditutup oleh bank, hal ini juga diperburuk dengan keadaan finansial keluarganya yang semakin menurun & memburuk. Pada tahun 2002, keluarganya akhirnya mengalami kebangkrutan & memiliki hutan sekitar 40 Juta Baht atau setara dengan 13 Miliar Rupiah. Akibat “kesibukanya” bermain game hingga tidak kenal waktu, hal ini membuat dia gagal masuk universitas negeri seperti yang diharapkan oleh orang tuanya, akhirnya mau tidak mau dia melanjutkan kuliah di Unversitas swasta.

Baru beberapa bulan dia kuliah, dia mengalami kejenuhan dan merasa bahwa kuliah bukanlah dunianya, terlebih lagi karena krisis finansial yang dialami keluarganya membuat dia semakin tidak bergairah untuk melanjutkan studi. Keputusan berat pun harus dia ambil, dan Top memilih untuk keluar dari universitas dan mendedikasikan hidupnya sepenuhnya dalam jalur bisnis. Dari sinilah dimulai titik balik hidup dari seorang Top Ittipat, yang pada awalnya hanya pemuda yang hobinya main game dan tidak memikirkan masa depan. Kini justru sebaliknya, Top menjadi pemuda yang sangat semangat untuk memulai bisnis.

Dari sisa uangnya dari main game, ia pun mencoba untuk mendirikan usaha dan dipilihlah untuk usaha DVD Player, tetapi nasibnya juga buruk di usaha ini. Ia pun ditipu mentah-mentah, semua DVD Player yang telah ia beli merupakan barang palsu & tidak dapat dikembalikan.

                                                                                                                                                        

Tidak patah arang, akhirnya Top pun mencoba membuat bisnis baru yaitu bisnis Chesnut goreng. Hal ini terjadi ketika Top melewati sebuah perusahaan penjual properti kuliner, dan dia melihat ada mesin pembuat chesnut instan, dari sinilah ide bisnis Top keluar. Tanpa pikir panjang akhirnya Top pun membeli mesin tersebut dengan harga yang bisa dibilang cukup mahal. Dimulailah fase baru usaha Top, yaitu bisnis chesnut.

Pada awalnya memang bisnis ini bisa dibilang tidak berjalan mulus. Top hanyalah seorang pemula dalam dunia bisnis, oleh sebab itu banyak sekali kegagalan yang ia dapati dalam bisnis ini. Dimulai dari penjualan chesnut yang tidak laku, hingga masalah proses penjualan chesnut tersebut. Namun, ternyata berkat kegigihan Top dalam menjalankan bisnis ini, perlahan membuahkan hasil.

Top bisa dibilang workaholic. Kecintaanya terhadap pekerjaan memang menjadi bagian dari hidupnya yang tak terpisahkan. Setiap harinya, Top bangun dan mulai bekerja untuk terjun langsung dalam proses penjualan chesnut. Tak jarang dia pun turun langsung mengangkut chesnut yang beratnya berkilo-kilogram tersebut. Kegiatan seperti ini berlangsung setiap hari hingga pukul 9 malam. Top benar-benar mengerahkan jiwa dan raganya untuk bisnis ini. Selain dalam proses penjualan, Top juga terlibat langsung dalam proses distribusi. Untuk pemasaran chesnut ini sendidri dijual di bebarapa Mall yang berada di Thailand yang bermitra denganya. Oleh sebab itu Top pun harus turun langsung untuk mengirimkan chesnut-chesnut tersebut ke beberapa Mall, yang tersebar di 30 cabang. Tak jarang saat mengirimkan chesnut tersebut yang menempuh jarak ratusan kilometer, membuatnya kelelahan hingga dia pun pernah meneteskan air mana karena saking kelelahnya. Beruntung, ibunya dan orang-orang disekelilingnya selalu mensupport dia secara penuh, hal ini tentunya menjadi penyemangat untuk dia kembali bekerja.

Setelah beberapa waktu bisnis chesnutnya ini mendapat keuntungan yang menggiurkan. Keuntunganya pun dari bisnis ini meraup hingga jutaan bath. Tentu, hal ini sangat membanggakan. Terlebih lagi ini merupakan pencapaian yang membayar semua kelelahan Top selama ini. Namun, masalah baru muncul. Bisnis Top terkendala masalah teknis dalam proses penjualan chesnut. Mesin penjual chesnut ini mengeluarkan asap hingga mengotori langit-langit mall. Tentunya hal ini tidak dapat dibiarkan oleh pihak Mall. Bahkan pihak Mall mengancam akan membatalkan kontrak jika masalah teknis ini tidak cepat diselesaikan. Tak hilang akal akhirnya Top mencari solusi untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan mengecat langit-langit Mall, setelah Mall tersebut tutup. Namun, ternyata hal ini tidak terlalu berjalan efektif. Bisnis chesnut pun perlahan mulai mengalami kelesuan. Pendapatan pun menurun. Penghasilan yang awalnya mendapat 8000 baht perhari menurut menjadi 4000 baht.

Top pun mencari cara lain yaitu dengan menambah pendapatan dengan menjual produk lain, yaitu menjual kesemak kering. Bisnis kesemak rupanya lumayan membuahkan hasil. Penjualan kotor pun meningkat. Rasio kesemak adalah sekitar 20%-30% dari penjualan toko. Meskipun kesemak meningkatkan penjualan, itu tidak bisa menebus kehilangan penjualan. Hal ini pun menjadi masalah yang harus ia cepat-cepat cari solusinya agar bisnisnya tidak gulung tikar di tengah jalan

Sampai suatu hari ketika menjemput pacarnya dari Universitas, pacarnya mengeluarkan “sesuatu” yang kelak akan mengubah takdir hidupnya, dan sesuatu itu adalah “Rumput Laut”. Rumput laut yang kelak akan membawanya pada kesuksesan bisnis. Namun, tentunya hal tersebut tidak instan. Pertama Top pun mencoba untuk mencicipi rumput laut goreng dari pacarnya tersebut. Tak disangka rasanya sangat enak, bahkan Top pun hampir menghabiskan rumput laut tersebut. Ia pun tidak lupa membawa sisa rumput laut tersebut ke rumahnya, dan memberikanya kepada Ibu dan Bibinya. Tak disangka responya pun sama seperti Top. Mereka menyukai rumput laut tersebut. Dari sinilah muncul ide bisnis Top, untuk menjadikan rumput laut sebagai bahan percobaan bisnisnya.

Babak baru pun dimulai. Top mulai melakukan eksperimen terhadap rumput laut. Pertama, dia mencoba untuk menggoreng sendiri rumput laut tersebut sambil dibantu oleh bibinya. Namun, tidak berhenti disana, rumput laut pun harus memiliki rasa. Oleh sebab itu hal ini belum mendapat pemecahanya, yaitu tentang rasa dari rumput laut itu sendiri atau singkatnya rumput laut perlu bumbu. Top pun mencari solusi untuk masalah tersebut.

        Ia akhirnya mendatangi Universitas Kasetsart, sebagai Universitas yang terkenal dengan jurusan Ilmu makanan yang baik. Top langsung menemui profesor di universitas tersebut untuk meminta solusi atas masalahnya. Ia akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu bumbu pelengkap rumput lautnya. Setelah yakin dengan semua persiapan dari rumput laut tersebut akhirnya dia siap dengan bisnis rumput laut dan meninggalkan bisnis chesnut.

Butuh waktu empat sampai lima bulan untuk mengembangkan produk. Dia pun mencari cara dalam pemasaran produk. Seseorang pernah berbicara kepada Top bahwa iklan merupakan cara efektif dalam menyelesaikan masalah ini. Namun, untuk sekali tayang iklan di TV saja membutuhkan dana sebesar 400.000 baht, hal ini merupakan harga yang fantastis dan sangat tidak bijaksana jika ia memaksakan untuk memasarkan produknya melaui cara ini. Bukanya akan menguntungkan, mungkin yang ada usaha rumput lautnya ini akan bernasib sama seperti bisnis-bisnis yang telah ia lakukan sebelumnya, yang pada akhirnya bernasib sama yaitu kebangkrutan.

Suatu hari saat Top sedang menonton TV dia melihat acara tentang entrepreneur, dia menemukan inspirasi dari sana. Dimana saat itu narasumber dari acara tersebut mengatakan bahwa rahasia dia sukses adalah karena taktik “pemasaran gerilya”. Hal ini membuatnya terinspirasi untuk mencoba trik kesuksesan tersebut.

Suatu hari saat Top sedang berjalan-jalan disekitar tempat tinggalnya. Dia menemukan apa yang dia cari-cari tentang penggunaan teknik pemasaran gerilya ini. Dia melihat 7-eleven (minimarket) yang ternyata menggunakan cara ini dalam mencari keuntungan. 7-eleven seperti “bergerilya” dengan mengelilingi “orang-orang”. Dengan banyaknya cabang 7-eleven yang bertebaran diamana-mana membuat dia yakin bahwa inilah solusinya. Jika ia bisa memasuki produk rumput lautnya ke 7-eleven, maka itu artinya dia sendiri ikut terlibat dalam “pemasaran gerilya” ini.

Masalah atas kegundahanya selama ini tentang pemasaran produknya sudah ia temukan solusinya, yaitu dengan menyetok produknya ke 7-eleven. Tapi tentunya, hal ini tidak mudah. Dia harus menemui pimpinan pemasaran 7-eleven.Butuh waktu dan kesabaran saat menjalankan “aksi” ini, karena dia harus berhadapan secara langsung dengan pimpinan 7-eleven dan harus meyakinkan bahwa produknya layak untuk dipasarkan di 7-eleven.

Pertama kali saat dia mengunjungi kantor 7-eleven, nasib sial menimpa Top. Produk rumput lautnya ditolak untuk bisa masuk 7-eleven. Hal ini tentunya bukanya tanpa alasan, produk rumput lautnya memang belum memenuhi standar 7-eleven, dimulai dari packaging hingga harga yang ditawarkan yang kemahalan. Namun, tak berhenti disana ia pun kembali mencoba peruntunganya, dengan kembali menemui Nona Pu ( pimpinan pemasaran 7-eleven). Kali ini dengan persiapan yang sudah matang, berbekal dengan penyempurnaan produknya. Sayangnya saat menemui Nona Pu di kantor. Top tidak berhasil bertemu secara langsung dengan Nona Pu. Berbekal kekecewaan dia harus pulang, tidak lupa dia pun meninggalkan rumput lautnya untuk diperiksa Nona Pu setelah kembali. Di titik inilah Top mengalami frustasi dan dia hampir menyerah untuk semuanya yang telah ia lakukan. Baginya saat itu, jika bisnis ini gagal lagi maka dia harus mengakhiri petualanganya dalam dunia bisnis.

Sesampainya dirumah teleponya pun berdering. Telepon tersebut dari Nona Pu. Rupanya kali ini ‘Dewi Fortuna’ berpihak kepadanya. Rumput laut Top siap dipasarkan di 7-eleven. Betapa Top bahagianya saat itu, saat mendengar bahwa rumput lautnya akan segera meluncur di 3000 cabang 7-eleven yang tersebar di seantero Thailand. Hal ini tentunya mengejutkan, karena awalnya dia menargetkan akan memasarkan produknya hanya di 300 cabang 7-eleven.

Masalah  pertama, yaitu untuk mendapatkan izin pemasaran di 7-eleven selesai. Namun, masalah baru muncul, dengan banyaknya cabang yang harus di pasok tentunya hal ini bisa menjadi masalah besar. Terutama karena awalnya dia hanya bisa memproduksi 280 kotak Rumput laut (Tao Kae Noi) seminggu. Namun, Nona Pu meminta 400 kotak seminggu. Hal ini menjadi masalah serius ketika Nona Pu “Mengancam” akan membatalkan kontrak jika tidak bisa memasok permintaan tersebut. Top mencari cara agar bagaimana caranya supaya target tersebut tercapai. Solusinya yaitu dengan menambah jumlah pegawai. Beruntung dengan backup dari keluarganya, masalah ini pun dapat terselesaikan. Keluarganya saling bahu membahu menyukseskan usaha Top. Ibu, Ayah, Kakak laki-laki, dan Kakak perempuanya semuanya membantu Top dengan senang hati. Bahkan kakak laki-laki Top mengajak teman temanya untuk berpartisipasi menjadi karyawan di perusahaan Top.

Hari yang ditunggu-tunggu pun terjadi. Yaitu, hari dimana Tao Kae Noi siap didistribuskan ke 3000 cabang 7-eleven. Bukanya tanpa kendala, Top pun mengalami keterlambatan saat pengiriman barang dari pabriknya ke gudang pasokan 7-eleven. Beruntung hal ini tidak terlalu dipermaslahkan oleh supervisor, walupun Top harus membayar denda sebanyak 2000 baht atas keterlambatanya tersebut. Tapi ini bukan masalah besar baginya, daripada harus rela produknya itu tidak dipasarkan sama sekali.

Untuk bisa bertahan produknya di 7-eleven tentunya tidak mudah. Perlu standar penjualan dimana produk harus memenuhi target penjualan. Dimana, 7-eleven memberikan standar produk yang dijual harus laku minimal 30 bungkus perbulan pertoko. Hal ini, tentu membuat Top khawatir juga setiap harinya. Karena jika tidak memenuhi standar tersebut bisa-bisa Tao Kae Noi akan didepak dari 7-eleven. Ia pun secara rutin mengecek setiap toko 7-eleven yang ia temui. Hasilnya ternyata bisa dibilang cukup mengkhawatirkan, karena prediksinya dia hanya bisa menjual produknya hanya sebatas standar minimal setiap bulanya. Oleh sebab itu dia mencari cara lain yaitu dengan menjual Tao Kae Noi, menggunakan gantungan yang dipajang di 7-eleven, hal ini berjalan efektif dan dapat meningkatkan penjualan. Terbukti dari jumlah penjualan yang semakin meningkat tiap bulanya. Yang pada awalnya pada bulan pertama hanya terjual 30 kantong, merangkak naik menjadi 90 bungkus dipenjualan bulan kedua, di bulan ketiga mencapai 100 bungkus.

Pendapat pun meningkat. Penjualan pada bulan ke-1 adalah 600.000 baht, bulan ke-2 1,2 juta baht, bulan ke-3 2 juta baht. Hal ini tentu sangat membanggakan. Kehidupan finansialnya pun perlahan membaik.

Pada tanggal 25 September 2004, Top mendaftarkan perusahaan “Tao Kae Noi Food and Marketing Co., Ltd. Penjualan tahun 2004, selama 4 bulan, penjualan lebih dari 10 juta baht. Pada tahun 2005, penjualan menjadi 75 juta Baht. Pada tahun 2006, mencapai 250 juta baht.

Setelah mendapat pemasukan, yang fantastis. Top pun mencoba melakukan strategi pemasaran yang dulu pernah ia impikan, yaitu melalui iklan di Televisi. Ternyata cara tersebut memang berhasil. Penjualan Tao Kae Noi pada tahun 2008 meningkat dari 500 juta baht menjadi 1 milyar baht. Pemasaranya pun bukan hanya di Thailand saja, tetapi sudah merambah sampai ke mancanegara. Sebut saja seperti Malaysia, Indonesia, Cina, Amerika Serikat, Macau, Hongkong, Myanmar, Kamboja dan masih banyak lagi. Penjualan pada tahun 2010 mencapai 1.6 milyar baht, penjualan pada tahun 2011 mencapai 2 milyar baht. Ada sekitar 2000 karyawan yang telah ia pekerjakan. Dengan pendapatan tersebut Top bisa melunasi utang keluarganya sebesar 40 juta baht di tahun 2007, yang mana adalah 3 tahun setelah mendirikan “Tao Kae Noi”. Ia pun dinobatkan sebagai salah satu pengusaha tersukses di Thailand. Kisahnya pun sekarang dapat kita saksikan melalui sebuah film yang berjudul “Top Secret”, yang ternyata mengalami kesuksesan yang sama dengan perjalanan hidupnya. Baginya, di dunia ini banyak hal yang tak terduga tapi semuanya bisa menjadi kenyataan. Kita hanya perlu melakukan sesuatu dengan serius , dengan cinta dan gairah.

 

Mantra “Jangan Pernah Kalah” Top Ittipat :

Ketika kita menghadapi suatu masalah, kita tidak boleh menyerah.

Kita boleh jadi kehilangan segalnya, tapi tidak boleh kehilangan semangat kita.

Jika kita menyerah, permainan akan berakhir.

Jika kita tidak pernah menyerah, permainan akan berlanjut.


Comments