Istilah industri budaya
dicetuskan oleh Adorno dan Hokheimer. Pada awalnya Industri Budaya diidentikan
dengan budaya massa, namun kemudian kedua istilah ini dibedakan satu sama lain.
Budaya massa merupakan budaya yang muncul secara spontan dari massa, merupakan bentuk
kontemporer dari seni populer dari rakyat. Sedangkan Industri budaya merujuk
pada budaya yang diproduksi secara masif dan terstandar bukan berasal dari
ekspresi kultural masyarakat melainkan produk industri. Industri budaya memiliki
kemampuan menyatukan “yang lama” dengan yang”familiar” kedalam kualitas baru
yang disebut produk industri. Salah satu ciri dari industri budaya adalah
munculnya struktur bentuk yang serupa antara satu produk dengan produk lainya.
Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat bahwa meskipun
banyak lagu baru yang hadir, namun kenyataanya lagu-lagu tersebut cenderung
mirip satu sama lain, sebagai contohnya lagu-lagu Kpop dengan Boyband dan Girlbandnya yang cenderung sama satu
sama lain.
Dalam Industri
budaya, menyebutkan bahwa masyarakat merupakan sosok yang pasif, tidak sadar,
sekunder, bukan penentu utama, objek kalkulasi, aksesoris dari kerja mesin.
Dampaknya adalah disini konsumen bukanlah merupakan raja tapi sebagai objek
yang bisa dieksploitasi demi tujuan komersil. Sebagai contoh, saya melihat di
media massa ada pemberitaan orang-orang sampai harus antre dan menginap demi
mendapatkan model Iphone terbaru.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa masyarakat “dipaksa” bahkan dijadikan robot
untuk membeli produk kapitalis.
Salah satu konsep
penting dalam memahami Industri budaya adalah mengenai ‘komoditas’. Dalam
industri budaya, komoditas yang dihasilkan diatur atas prinsip realisasi nilai
bukan oleh konten dan formasinya. Ini artinya, komoditas yang dihasilkan
industri budaya lebih mementingkan nilai ekonomis, bisa laku atau tidak, bisa
menghasilkan profit atau tidak, daripada kualitas yang dihasilkan oleh
komoditas itu sendiri. Tidak peduli “sesampah” apapun komoditas itu, jika
memang menguntungkan Industri akan terus memproduksinya. Contoh, kita bisa
melihat bahwa banyak ‘acara sampah’ yang tayang di pertelevisian Indonesia, misalnya
sinetron. Acara ini tetap berjalan karena rattingnya tinggi.
Komoditas yang
dihasilkan oleh industri budaya bisa menyebabkan apa yang disebut sebagai
istilah ‘fetisisme komoditas’, yaitu suatu kondisi dimana nilai tukar melebihi
nilai guna suatu produk. Sebagai contohnya, ketika saya makan di restoran atau
kafe yang ‘elite’, yang menjadi fokus perhatian saya bukanlah rasa masakanya
melainkan ‘pride’ dari faktor lainya,
sebut saja seperti harganya dan tempatnya. Dalam industri budaya produk yang
dihasilkan memiliki dua ciri unik yaitu standarisasi dan individualisasi semu.
Standarisasi merujuk pada kondisi dimana komoditas yang dihasilkan industri
budaya cenderung sama antara produk yang satu dengan yang lainya. Contohnya
dalam kehidupan sehari-hari, saya bisa melihat banyak orang yang ‘hypebeast’ yang membeli kaos dari distro
tertentu dengan merk yang terkenal, padahal bahan dan kegunaanya sama saja
seperti kaos di toko biasa. Sedangkan Individualisasi semu, merujuk pada
kondisi dimana produk-produk yang sama tersebut diberi perbedaan, meskipun
tidak signifikan dan hanya kebetulan saja. Contohnya, kembali lagi, seperti
kaos di distro dimana dari segi bahan dan modelnya sama-sama saja, tapi yang
membedakan misalnya logonya, variasi warna, atau sekadar
‘perintilan-perintilan’ kecil yang tidak signifikan sebagai pembeda.
Adanya industri
budaya, oleh Adorno dinilai sebagai sesuatu yang cenderung negatif. Menurut
hemat penulis, Adorno memandang industri budaya dengan sangat pesimis,
seolah-olah industri budaya adalah penghancur masyarakat. Beberapa kritik
Adorno terhadap industri budaya diantaranya yaitu tentang kritiknya terhadap
musik pop. Baginya musik pop merupakan produk budaya rendah, berbeda halnya
dengan musik klasik yang dikonsumsi oleh orang elite saja. Lebih ekstrim lagi,
Adorno menyebut mereka yang menyukai musik pop bersifat kekanak-kanakan,
konyol, primitif dan mengalami regresi. Menurutnya, industri budaya bisa
mengambil alih kesadaran manusia dan mematikan pikiran. Hal ini menyebakan
massa menjadi tidak berdaya. Dilain pihak kapitalisme justru semakin mengakar
kuat sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan.
Selain tentang
komoditas, hal lainya yang menarik mengenai industri budaya adalah mengenai konsep
nilai. Adorno membagi kebutuhan manusia menjadi dua, yaitu kebutuhan riil dan
kebutuhan palsu. Menurut Adorno, masyarakat industri budaya sebenarnya belum
bahkan tidak mencapai yang namanya kebutuhan riil, mereka hanya sekadar bisa
memenuhi kebutuhan palsu. Sebagai contohnya, banyak masyarakat yang cenderung
membeli barang tertentu, ambil contoh misalnya gadget yang mahal dan barang-barang branded, padahal mereka rumah masih ngontrak dan cicilan masih
belum lunas. Hal inilah yang menurut Adorno menyebabkan masyarakat sulit untuk
bisa memenuhi kebutuhan riil alih-alih mereka semakin tenggelam dalam hegemoni
kapitalisme.
Industri budaya
dalam perjalananya tidak lepas dari pengaruh Fordism, yaitu suatu konsep sistem ekonomi dan sosial modern dengan
ciri produksi komoditas secara massal dan luas. Berdasarkan waktunya, fordism sendiri mengalami dua era
yaitu fordism dan post fordism. Fordism sendiri lahir di
tahun 1940-1970an dengan ciri-ciri
orientasi produksi bersifat massal, produk terstandarisasi dan pekerjaan buruh
terstandarisasi. Contohnya, dahulu penjualan mobil diproduksi secara massal
namun bentuk dan spesifikasinya sama, hal ini dimaksudkan agar produksinya
lebih cepat dan banyak. Sedangkan pada era post
fordism, yang lahir di era 1970an orientasinya menekankan pada pelayanan
dan produknya beragam dan terfragmentasi. Contohnya, karena bisnis terus
berkembang dan produsen sudah banyak pesaing, maka mau tidak mau produknya
harus ada pembeda, misalnya produksi mobil yang awalnya sama semua, kemudian diberi
sentuhan spesifikasi yang berbeda dengan target market tertentu.

Comments
Post a Comment