Berbicara Tentang Nasionalisme

Generasi muda adalah generasi yang berkarya, oleh karena itu bukan hal yang lumrah jika kita hubungkan rasa nasionalisme dengan sebuah karya, bentuknya pun bisa beragam mula dari musik,sastra,lukisan maupun dalam bentuk aksi nyata seperti mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti  karang taruna dan perkumpulan pemuda. Rasa dan sikap nasionalisme tentunya tidak melulu tentang bagaimana kita menjaga keutuhan negara ini  dari ancaman pihak luar maupun dari dalam, melainkan bagaimana caranya melestarikan dan memberdayakan generasi muda Indonesia untuk tetap menjagi “rasa nasionalisme” itu sendiri, yang diperlukan sekarang adalah bagaimana mengemas nasionalisme menjadi sebuah hal yang menarik, bukan lagi hal yang dipaksakan dan terlihat sangat berat  melainkan menjadi lebih atraktif sekaligus mendorong untuk diri kita sendiri terlibat langsung dalam aksi nyata itu.


 

Melihat kondisi dan perkembangan zaman sekarang ini, mungkin terlihat sulit untuk menemukan anak muda yang paham dengan arti nasionalisme itu sendiri, kita hidup di zaman diamana sikap individualisme semakin menjamur terlebih lagi gambaran anak muda hedonis sangat mudah kita temukan di kota-kota besar. Lalu apa dampaknya? Tidak lain dan tidak bukan sikap hedonis dan individualisme itu sendiri lah yang berpengaruh terhadap lunturnya nilai dan rasa nasionalisme itu sendiri. Padahal syarat utama dari Nasionalisme itu sendiri adalah persatauan dan kesatuan, lalu bagaimana hal itu dapat terwujud, jika anak muda sendiri cuek terhadap sekitarnya,tentunya akan sulit nilai nasionalisme itu tercapai. Namun bukanlah hal yang tidak mungkin untuk merubah sikap individualis menjadi nasionalis, at least kita bisa mengurangi sikap hedonis dan individualis dikalangan anak muda.

 

 Lalu bagaimana caranya? Apakah kita harus ikut wajib militer? Atau mengikuti aksi-aksi demonstrasi membela hak rakyat? Rasanya terlalu naif jika kita selalu menghubung-hubungkan rasa nasionalisme hanya dengan bentuk seperti itu. Memang tidak salah, bahkan jika memungkinkan mengapa tidak,mengikut wamil atau mengikuti demonstrasi. Namun apakah kita siap? Jangankan untuk wajib militer, masuk pramuka saja saat SD,SMP sampai SMA masih banyak yang ogah-ogahan, apalagi wajib militer yang pastinya tugas dan bebanya lebih berat. Oleh sebab itu,mari dari sekarang kita mulai dari hal yang terkecil lebih dahulu. Dimulai dari lingkungan keluarga,teman,sekolah hingga nanti dilingkungan yang lebih luas.

 

Lantas, bagaimana dan apa yang harus kita lakukan? Seperti yang sudah kita singgung tadi, kita bisa memulainya dari hal yang terkecil seperti misalnya untuk anak SD kita tanamkan nilai-nilai nasionalisme itu dengan cara mengenalkan pahlawan sekaligus menceritakan sejarah perjuanganya,agar anak tersebut dapat termotivasi. Lalu kita juga bisa mengenalkan adik-adik kita lagu-lagu yang berbau nasionalis, mungkin  pada saat SD juga kita sudah tidak asing lagi dengan lagu “Indonesia Pusaka”, “Maju tak gentar”,”Satu Nusa Satu Bangsa” , dan masih banyak lagi lagu-lagu wajib nasional yang dulu mungkin kita telah pelajari. Generasi muda sekarang mirisnya mereka lebih tahu lagu-lagu barat atau korea daripada lagu-lagu wajib nasional, apalagi lagu daerah.

 

Jadikanlah rasa nasionalisme itu menjadi sesuatu yang menyenangkan dan yang terpenting tidak dipaksakan, rasa cinta terhadap tanah air harus timbul dari dalam sendiri agar suatu saat nanti generasi yang akan datang menjadi pribadi yang penuh dedikasi terhadap negara.

 

Berbicara mengenai nasionalisme tentunya tidak ada habisnya, kita masih bisa hidup rukun dan damai dalam negara ini tentunya merupakan suatu gambaran nyata bahwa negara ini masih berdiri kokoh dan eksistensinya masih diakui baik dari warga negara itu sendiri maupun dari dunia internasional. Namun, apakah hanya dengan keberadaan negara ini kita sebagai warga negara Indonesia dapat hidup dalam kemakmuran? Tentunya pertanyaan itu bisa kita jawab dengan melihat kondisi nyata di dalam masyarakat saat ini. Hidup negara yang berkembang tentunya penuh dengan problema baik itu dalam bidang sosial,ekonomi, maupun politik. Beberapa masalah tersebut tentunya bukan hal yang sepele karena tidak jarang dari faktor ekonomi,sosial, dan politik dapat memicu terjadinya degradasi moral yang berakibat kekecewaan masyarakat terhadap negara. Seringkali kita banyak mendengar kasus warga negara suatu negara membelot karena kekecewaan terhadap pemerintah yang bisa dibilang gagal menjalankan tugasnya. Bentuknya pun bisa beragam mulai menjadi provokator untuk merongrong kekuasaan pemerintah yang dinilai buruk untuk negara tersebut, sampai melakukan aksi-aksi kekerasan sebagai bentuk protes terhadap keadaan yang ada. Jika sudah begini siapakah yang harus disaslahkan? Apakah pemerintah atau masyarakat itu sendiri?

 

Jika melihat dari sejarah perjalan panjang bangsa ini, tentunya banyak hal yang bisa kita pelajari mengenai disintegrasi bangsa, mulai dari zaman sebelum kemerdekaan hingga saat sesudah kemerdeakaan. Di tahun 1965 contohnya kita kenal dengan peristiwa G-30S PKI yang menurut beberapa sumber mengatakan sebagai organisasi yang menjadi penyebab kekuasan politik saat itu kacau karena ingin mengkudeta pemerintah saat itu.  Kemudian dalam kasus lain yaitu DI-TII yang menjadi suatu ancaman juga bagi bangsa ini, karena dipicu kekecewaan terhadap pemerintah. Dari beberapa kasus yang disebutkan ada dua perbedaan yang satu karena memang ambisi pribadi untuk mengubah negara ini menjadi negara komunis, dan dalam kasus DI-TII disebakan karena kekecewaan terhadap pemerintah pada saat itu yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari NKRI. Oleh karena itu, agar sejarah ini tidak terulang kembali maka hanya ada satu jalan keluar untuk mengatasi masalah ini, yaitu ‘kolaborasi’ antara pemerintah dan masyarakat. Disatu sisi, pemerintah sebagai regulator dan juga penjaga kedaulatan negara harusnya lebih peka dan peduli terhadap permasalahan yang ada. Caranya bisa dimulai dengan mendengarkan masyarakat dari kalangan akar rumput, karena dari merekalah suara sesungguhnya tentang permasalahan yang terjadi itu nyata. Selanjutnya, peran masyarakat pun sangat berperan besar, masyarakat harus mulai sadar bahwa negara Indonesia bisa maju dan sejahtera apabila masyarakatnya pun disiplin dan berusaha untuk terlibat aktif memajukan negara.

 


Comments